Menulis ini karena hati dan pikiran saya yang terusik.
Rabu, 18 Agustus 2016 terjadi serangan bom di Aleppo, Suriah (Syria). Terekspos sebuah foto, video yang menyorot seorang anak kecil laki-laki berusia 5 tahun, bernama Omran. Mengapa akhirnya foto ini begitu dibicarakan ? Karena terlihat bagaimana seorang anak kecil yang berlumuran debu diseluruh tubuhnya hingga warna kulit, pakaian, rambutnya tak lagi terlihat. Hanya warna abu-abu dan merah yang saya lihat. Ya ada merah di sana, merah karena darah yang melumuri sisi kiri wajahnya.
Omran tidak menangis, terlihat dia kebingungan. Entah seperti apa sebelumnya kebersamaan dengan keluarganya sebelum bom menghantam rumahnya.
Saya sedih, menangis melihat videonya. Bukan hanya saya, banyak orang-orang, di seluruh dunia, bahkan penyiar berita CNN, Kate, menyiarkannya sambil menangis.
Saya terharu, masih banyak orang yang masih memikirkan kemanusiaan satu sama lain, menghiraukan ras, suku, agama, wilayah, gender, usia.
Namun, apa yang saya lihat hari ini, 22 Agustus 2016, di Instagram saya melihat foto dan sedikit penjelasan akan foto itu. Foto seorang ibu yang memangku anaknya, di foto lainnya, ada foto Omran yang penuh luka.
Apa yang tertulis, intinya adalah ibu itu meragukan kebenaran dari foto Omran. Innalillahi. Sebegitu piciknya seseorang yang mengatakan bahwa foto Omran yang terluka itu adalah rekayasa. Terlepas siapa pun yang mengatakannya.
Itu bukan acara TV yang ingin menaikkan rating, itu bukan pula acara entertainment yang mencari penonton terbanyak, itu bukan foto dan video yang hanya mencari 'Like' sebanyak-banyaknya. Itu adalah gambaran kemanusiaan yang tersisihkan, kesedihan, kehilangan, peperangan, terluka, air mata.
Mengapa orang berkata-kata ketika tidak mengetahui kebenarannya. Berita Omran bisa mudah diakses di mana-mana, ada videonya yang asli, bukan rekayasa, bagaimana tim penyelamat mengeluarkannya dari puing-puing. Ada videonya ketika dia baru menyadari wajahnya berdarah ketika dia menyekanya. Lalu dia tetap tidak menangis. Seorang anak kecil dianggap merekayasa. Sungguh picik.
Tolong carilah tahu sebelum berkomentar, begitu mudahnya sekarang mengakses berita. Jangan, tolong jangan berkata-kata dari sesuatu yang tidak diketahui secara benar, sehingga akhirnya kata-kata itu menimbulkan kesedihan lain, kecaman, dan hujatan, yang mungkin tidak hanya dari saya.
Allah SWT yang akan membalas perkataan ibu itu. Omran sayang, biarkan orang yang tidak mengenalmu, yang meragukan kebenaran dari musibah yang menimpamu mendapat kesadaran dan balasannya. Hukum alam berbicara. Karma pasti ada.
Omran sayang, lekas pulih. Maafkan saya yang hanya bisa berdoa dan belum dapat memelukmu secara langsung untuk menyampaikan rasa sayang saya.
No comments:
Post a Comment